MOJOKERTO — Sembilan tahun perjalanan menjadi ruang belajar dan berekspresi bagi generasi muda menjadi momentum penting bagi Kelompok Seni Persada. Komunitas seni yang menghimpun anak-anak muda lintas generasi ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke-9 pada Sabtu malam,(10/2026), dengan menampilkan beragam pertunjukan seni yang disambut antusias oleh ratusan penonton dari berbagai kalangan.
Perayaan tersebut menghadirkan sejumlah pertunjukan, mulai dari tari Remo massal, Mayang Rontek, musikalisasi puisi, hingga pertunjukan teater. Beragam sajian itu menjadi gambaran ragam seni sekaligus upaya memperkenalkan dan merawat kesenian kepada masyarakat luas.
Ratusan penonton hadir menyaksikan perayaan tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari penikmat seni, masyarakat umum, hingga pejabat. Kehadiran beragam lapisan masyarakat ini menunjukkan bahwa kegiatan kesenian dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan pelaku seni dan masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Bagi Kelompok Seni Persada, perayaan ulang tahun bukan sekadar penanda bertambahnya usia komunitas. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat atas perjalanan panjang dalam menyediakan ruang belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi generasi muda melalui seni.
Persada merupakan kelompok seni yang menghimpun anak-anak muda dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas (SMA), mahasiswa, aktivis, hingga seniman. Mereka datang dengan semangat yang sama, yakni belajar seni dan mengembangkan kreativitas.
Salah satu anggota yang mengikuti perjalanan Persada sejak awal adalah Faqih. Ia mengaku telah bergabung bersama Kukunn Triyoga, pendiri Persada, sejak 2016, bahkan sebelum komunitas tersebut dibentuk secara resmi.
“Saya ikut Mas Kukun dari tahun 2016, mungkin sebelum sistem Persada dibentuk secara resmi,” tutur Faqih.
Selama bergabung, Faqih mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan, mulai dari seni musik hingga seni teater. Ia juga belajar keterampilan di luar proses artistik, seperti mengelola acara atau event organizer (EO), membangun hubungan baik dengan kelompok seni lain, serta menjaga interaksi dengan masyarakat di sekitar sanggar.
Menurutnya, pengalaman yang tidak kalah penting adalah belajar menghadapi karakter anak-anak yang berbeda dari generasi ke generasi. Proses tersebut menjadi pembelajaran dalam membangun komunikasi, memahami karakter, dan menjaga keberlangsungan komunitas.
Bagi Faqih, berkesenian juga memberikan dampak besar terhadap perkembangan pribadinya. “Kesenian juga membangun rasa antar sesama dan solidaritas yang tinggi,” ungkapnya.
Manfaat berkesenian, lanjut Faqih, tidak berhenti pada pengembangan diri dan hubungan sosial. Aktivitas seni juga berperan dalam melestarikan seni dan budaya lokal. Setiap pementasan bahkan berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Di tengah kesibukannya bekerja, Faqih mengaku tetap berusaha meluangkan waktu untuk Persada. Baginya, komunitas tersebut memiliki arti penting sebagai ruang belajar dan tempat untuk terus bertumbuh bersama melalui kesenian.
Sementara itu, Kukun Triyoga, pendiri Kelompok Seni Persada, berharap komunitas yang dirintisnya dapat terus berkembang dan menjadi ruang terbuka bagi anak-anak muda untuk menyalurkan ekspresi serta kreativitas mereka.
“Semoga Persada tetap tumbuh dan menjadi wadah buat anak-anak yang ingin meluapkan ekspresinya. Dan mudah-mudahan pemerintah tidak tutup mata untuk kesenian di Kabupaten Mojokerto,” tutur Kukun pemuda berambut gondrong yang merupakan alumni STKW Surabaya tersebut.
Harapan itu menjadi pengingat bahwa keberlangsungan kesenian tidak hanya bergantung pada semangat para pelaku seni, tetapi juga membutuhkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.
Perayaan ulang tahun ke-9 Persada menjadi salah satu gambaran bagaimana komunitas seni dapat terus menghadirkan ruang kreatif bagi generasi muda sekaligus mendekatkan kesenian kepada masyarakat. Melalui tari, musik, puisi, dan teater, Persada berupaya menjaga agar seni tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Sembilan tahun perjalanan ini diharapkan menjadi pijakan bagi Persada untuk terus tumbuh, memperluas ruang belajar bagi generasi muda.(*/Sofanka)
Editor : Sofan Kurniawan