Hari Tenun Nasional: Menjaga Benang-Benang Warisan Nusantara

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 12:30 WIB
WARISAN TRADISI: Perajin kain tenun ikat menggunakan tradisional di Dusun/Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. (Foto: dok JPRM)
WARISAN TRADISI: Perajin kain tenun ikat menggunakan tradisional di Dusun/Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. (Foto: dok JPRM)

RADAR MAJAPAHIT — Hari Tenun Nasional yang diperingati tiap tanggal 7 September menjadi momen penghormatan terhadap kain tenun sebagai salah satu identitas budaya bangsa. Kain tenun bukan sekadar lembaran kain tradisional, melainkan bagian erat dari identitas budaya bangsa Indonesia. 

Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan (Ditjen DPSK) Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus mengenalkan, memakai, dan mengapresiasi warisan kain tenun nusantara.

Peringatan Hari Tenun Nasional yang jatuh setiap tanggal 7 September memiliki sejarah panjang. Langkah penetapannya telah dirintis sejak 24 Februari 2019 hingga akhirnya resmi disahkan melalui Keputusan Presiden pada 16 Agustus 2021. Pemilihan tanggal 7 September sendiri bertepatan dengan momen bersejarah berdirinya Sekolah Tenun pertama di Surabaya oleh dr Soetomo.

Ditjen DPSK Kemenbud RI menyampaikan ajakan nyata untuk terus memelihara warisan luhur ini. "Ayo kita mengenal, memakai, dan mengapresiasi tenun sebagai wujud usaha sederhana dalam menjaga warisan budaya ini agar tetap hidup untuk generasi mendatang," tulis keterangan resmi Ditjen DPSK Kemenbud RI.

Kekayaan Teknik dan Warna Alami Nusantara

Secara teknis, tenun merupakan kerajinan pembuatan kain tradisional dengan menyilangkan benang pakan (horizontal) dan benang lungsi (vertikal). Dari Sabang sampai Merauke, tenun hadir dengan ragam filosofi, fungsi sosial-budaya, serta variasi teknik yang sangat kaya.

Dua teknik yang populer di antaranya adalah tenun ikat dan tenun songket. Pada tenun ikat, benang diikat sesuai pola sebelum dicelupkan ke pewarna sehingga motifnya menyatu dengan kain. Sementara pada tenun songket, motif timbul dibentuk dengan menyungkit benang pakan lalu menyelipkan benang hias khusus di antara benang dasar.

Keunggulan tenun tradisional juga terletak pada penggunaan bahan pewarna alami yang ramah lingkungan. Warna biru didapatkan dari daun indigofera, warna merah dari akar pohon mengkudu, serta warna kuning dari kunyit.

Dari Ritual Adat hingga Tren Mode Modern

Kehadiran kain tenun senantiasa melekat dalam berbagai ritual siklus hidup masyarakat Indonesia, mulai dari momen kelahiran, pernikahan, hingga prosesi kematian dan upacara seremonial adat.

Seiring berkembangnya zaman, nilai estetika dan keunikan tekstur kain tenun kini makin diminati oleh industri kreatif modern. Kain tenun tidak lagi hanya dipakai dalam acara adat, tetapi juga menjelma menjadi salah satu elemen penting dalam tren gaya busana (fashion) harian maupun formal. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Sumber : Ditjen DPSK Kemenbud RI
Kemenbud RI Ditjen DPSK Kain Tenun