Bupati Mojokerto Berangkatkan Ludruk Remaja ke Festival Cak Durasim

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 09:06 WIB
DUKUNGAN BUPATI: Puluhan personil ludruk remaja Mojokerto di berangkatkan oleh Bupati Mojokerto di pringgitan (4/9) FOTO: arsip karya persada
DUKUNGAN BUPATI: Puluhan personil ludruk remaja Mojokerto di berangkatkan oleh Bupati Mojokerto di pringgitan (4/9) FOTO: arsip karya persada

MOJOKERTO – Puluhan anak muda yang tergabung dalam kelompok Ludruk Remaja karya Persada Kabupaten Mojokerto bersiap membawa kesenian tradisional daerah ke panggung Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.
Mereka diberangkatkan langsung oleh Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra dari Pringgitan, kompleks Rumah Dinas Bupati Mojokerto, Jumat pagi (4/9).

Festival Cak Durasim sendiri akan berlangsung pada 5 hingga 9 September mendatang. Dalam ajang tersebut, Karya Persada  akan tampil membawakan lakon Joko Sambang, sebuah cerita yang memiliki keterkaitan dengan sejarah dan dinamika kehidupan masyarakat Mojokerto.

Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra menyampaikan apresiasinya terhadap keterlibatan generasi muda dalam menjaga kesenian tradisional. “Kami bangga dan mendukung atas kecintaan dan kepedulian generasi muda Kabupaten Mojokerto pada seni budaya daerah. Generasi muda adalah para penerus perjuangan. Dengan kecintaan pada seni dan budaya tentu membantu generasi muda terhindar dari hal-hal negatif,” tuturnya.

Dukungan juga datang dari Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Mojokerto, Sunarto. Ia berharap keikutsertaan anak-anak muda Mojokerto dalam Festival Cak Durasim tidak hanya menjadi ajang pentas, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang tokoh perjuangan. “Selamat dan sukses kepada kontingen Kabupaten Mojokerto pada Festival Cak Durasim di Surabaya. Semoga generasi muda Kabupaten Mojokerto bisa meneladani kepahlawanan Cak Durasim yang membela kemerdekaan melalui seni budaya. Kami terus mendukung gelaran-gelaran kebudayaan, khususnya di Kabupaten Mojokerto,” ujar Sunarto, yang akrab disapa Ki Narto.

Sementara itu, lakon Joko Sambang yang akan dimainkan Persada Budaya disutradarai oleh sutradara muda Kukun Triyoga. Kisah tersebut mengangkat realitas dan dinamika kehidupan manusia yang pernah terjadi di Mojokerto dan daerah sekitarnya, terutama tentang perlawanan terhadap penindasan pada masa kolonial.

Dalam cerita itu, Joko Sambang dikisahkan sempat bertapa di Gunung Penanggungan. Dari tempat tersebut, ia kemudian dijemput oleh ibunya, ia lantas turun dan memilih melawan penindasan.

LATIHAN: Grup Karya Persada saat berlatih persiapan pentas di Desa Losari Gedeg senin lalu. (Foto: Sofan/Radar Mojokerto)
LATIHAN: Grup Karya Persada saat berlatih persiapan pentas di Desa Losari Gedeg senin lalu. (Foto: Sofan/Radar Mojokerto)

Kukun mengatakan, pemilihan lakon Joko Sambang bukan tanpa alasan. Cerita tersebut dinilai memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah dan menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air di kalangan generasi muda.

Bagi para pemain muda Persada Budaya, Festival Cak Durasim menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali ludruk kepada penonton lintas generasi.

Di panggung Taman Budaya Jawa Timur nanti, pertunjukan mereka akan disaksikan beragam kalangan, mulai dari pejabat hingga masyarakat umum.

Lewat Joko Sambang, mereka tidak sekadar tampil. Mereka membawa Mojokerto ke panggung kesenian Jawa Timur sekaligus menunjukkan bahwa ludruk masih dicintai oleh generasi muda saat ini. (*Sofan Kurniawan)

Editor : Sofan Kurniawan
ludruk budaya jawa timur teater