Catatan obituari seorang pelawak dan pengidung Ludruk Jawa Timur
MOJOKERTO-Di panggung ludruk, pelawak bukan sekadar pengundang tawa. Ia adalah bagian dari ingatan sebuah zaman. Melalui lawakan, kidungan, dan perannya, ia merekam kehidupan masyarakat yang sering luput dari catatan sejarah.
Slamet Riyadi (68) adalah salah satunya. Warga Desa Sawo Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto ini mengenal ludruk sejak remaja, melalui kehidupan ludruk tobong yang berpindah dari desa ke desa di Jawa Timur. Dari satu kelompok ke kelompok lain, ia pernah bergabung dengan Ludruk Teratai Jaya Sidoarjo, Ludruk Sari Murni Jombang, hingga akhirnya menjadi bagian dari Ludruk Karya Budaya Mojokerto.
Namanya semakin dikenal pada masa kejayaan Karya Budaya. Bersama Cak Supali, Trubus, dan Cak Liwon, ia menjadi bagian dari generasi pelawak yang memberi warna kuat pada panggung ludruk Mojokerto. Namun Cak Slamet bukan hanya pelawak. Ia juga dikenal piawai ngidung jula-juli dan memainkan berbagai karakter dalam lakon, termasuk Besutan.
Nisar Edi Karya, pimpinan Ludruk Karya Budaya, mengenang Cak Slamet sebagai seniman yang memiliki dedikasi dan totalitas tinggi. Kemampuannya menciptakan kidungan jula-juli bahkan mendapat tempat dalam buku karya Edi Karya, Ludruk Karya Budaya: Mbeber Urip.
“Orangnya sangat penuh dedikasi dan totalitas yang tinggi dalam menjalani profesinya,” ujar Nisar.
Senada dengan Nisar, Jabbar Abdulloh, anggota Karya Budaya, menyebut Cak Slamet sebagai seniman multitalenta. Selain melawak dan ngidung, ia juga mampu memainkan lakon Besutan. Ia pernah membawa Besutan ke panggung Sunrise Mall, Kota Mojokerto. Dari tobong di pelosok desa hingga pusat perbelanjaan modern, bagi Cak Slamet ludruk memang tak mengenal batas ruang. Dalam catatan Jawa Pos Radar Mojokerto, Cak Slamet juga aktif dalam kegiatan regenerasi ludruk ke anak-anak muda.
Sejak 2019, Cak Slamet tak lagi mengikuti pementasan Karya Budaya. Dalam perbincangan di podcast Gundul TV tahun lalu, ia menyebut faktor kesehatan sebagai alasannya, termasuk kolesterol dan asam urat. Bahkan ketika membicarakan tubuh yang mulai membatasi langkahnya, ia masih menyampaikannya dengan canda bersama Cak Liwon.
Kini panggung Karya Budaya harus berjalan tanpa dirinya. Tetapi jejak Cak Slamet tidak berhenti ketika ia meninggalkan panggung.
Ia tinggal dalam ingatan para penonton, dalam cerita sesama seniman, dalam kidungan jula-juli, dan dalam tawa yang pernah ia bagi kepada banyak orang.
Cak Slamet telah turun dari panggung. Tetapi tawa dan kidungannya masih menjadi bagian dari perjalanan panjang ludruk Jawa Timur.
Selamat jalan, Cak Slamet.
Panggung boleh gelap, tetapi kidunganmu masih menemukan jalan pulang. (*Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto)