RADAR MAJAPAHIT – Reog Ponorogo merupakan seni pertunjukan tradisional asal Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang menjadi salah satu warisan budaya Nusantara. Kesenian ini juga telah mendapat pengakuan internasional setelah UNESCO menginskripsi Reog Ponorogo ke dalam List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding pada 3 Desember 2024.
Mengutip dari laman Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI, penetapan tersebut dilakukan dalam sidang UNESCO di Asuncion, Paraguay. Status itu diberikan di tengah tantangan keberlanjutan Reog Ponorogo, antara lain perubahan preferensi masyarakat terhadap musik modern, persoalan regenerasi seniman, serta persepsi generasi muda terhadap kesenian tradisional. "Reog Pogorogo bukan sekadar tarian atau drama, tetapi sebuah pagelaran kolosal yang melibatkan unsur musik, tari, sastra lisan, dan ritual, menjadikannya cerminan utuh dari sejarah, mitos, dan spiritualitas masyarakat Ponorogo," tulis Kemendikbud RI di laman resminya.
Dalam perkembangannya, Reog juga mengalami perubahan mengikuti konteks sosial dan budaya masyarakat. Latar kesenian ini antara lain berkembang dari lingkungan animisme-dinamisme hingga kemudian mendapat pengaruh keislaman setelah masuknya agama Islam.
Salah satu cerita yang paling dikenal adalah legenda Bantarangin. Kisah tersebut menghubungkan Reog dengan Raja Kelana Sewandana dari Kerajaan Bantarangin yang berhadapan dengan Raja Singabarong, penguasa hutan Lodoyo, dalam upayanya melamar Putri Songgolangit dari Kediri.
Cerita tersebut kemudian diwujudkan melalui sejumlah tokoh utama dalam pertunjukan Reog. Salah satu yang paling dikenal adalah Dadak Merak, berupa topeng berukuran besar dengan perpaduan kepala harimau dan bulu burung merak.
Dadak Merak memiliki makna kekuatan, keindahan, kekuasaan dan keberanian. Perpaduan dua unsur tersebut juga dimaknai sebagai gambaran kehidupan bersama dan perdamaian.
Topeng Dadak Merak dibuat dari kerangka bambu dan rotan yang ringan tetapi kuat. Hiasannya menggunakan bulu merak asli dengan berat yang dapat mencapai 50 hingga 60 kilogram. Secara tradisional, topeng tersebut dibawakan seorang penari dengan menggigit bagian rahangnya.
Selain Dadak Merak, terdapat tokoh Jathil atau Jathilan yang digambarkan sebagai penunggang kuda kepang. Tokoh ini menjadi simbol prajurit berkuda yang mengiringi rombongan Raja Kelana Sewandana.
Tokoh Warok juga menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Warok menggambarkan karakter pemberani, tangguh dan memiliki sisi spiritual. Warok Tua dikenal sebagai sosok yang dihormati karena memiliki kewibawaan, jiwa besar dan keteguhan pendirian. "Pakaian Warok didominasi warna hitam dengan kumis tebal, mencerminkan kesederhanaan namun berjiwa kesatria," jelas Kemenbud RI.
Sementara itu, Klana Sewandana merupakan sosok raja yang ditampilkan melalui gerakan tari lincah dan energik dengan topeng merah. Adapun Bujang Ganong atau Ganongan merupakan patih dengan karakter lucu dan ekspresif yang berfungsi sebagai pengawal raja sekaligus pemecah suasana.
Pertunjukan Reog juga tidak terlepas dari Gamelan Reog. Sejumlah instrumen khas yang digunakan antara lain gong, kempul, ketipung dan angklung reog.
Legenda Bantarangin yang mengisahkan Kelana Sewandana dan Putri Songgolangit menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Cerita tersebut membawa pesan simbolis dan nilai moral yang kemudian menjadi bagian dari upaya mempertahankan keberadaan seni Reog.
Di sisi lain, Reog juga memiliki dimensi kritik sosial. Tokoh Singa Barong dalam sejumlah penafsiran dikaitkan dengan sindiran politik terhadap Raja Kertabhumi di Majapahit yang disebut berada di bawah pengaruh permaisurinya, Putri Campa. Reog juga disebut pernah berfungsi sebagai sarana penggerak atau mobilisasi rakyat.
Berkembang dalam Beragam Bentuk
Perkembangan Reog terlihat dari munculnya berbagai varian pertunjukan. Setidaknya terdapat empat bentuk yang dikenal, yakni Reog Obyog, Reog Panggung atau Garapan/Festival, Reog Santri dan Reog Pelajar.
Reog Obyog umumnya dipentaskan di lingkungan jalanan atau pedesaan dengan bentuk pertunjukan yang lebih bebas. Sementara Reog Panggung atau Festival memiliki struktur dan koreografi yang lebih teratur serta biasanya dipentaskan dalam kegiatan formal maupun kompetisi.
Reog Santri berkembang di lingkungan pesantren. Sementara Reog Pelajar diarahkan sebagai media penanaman karakter melalui seni budaya, termasuk untuk membentuk kedisiplinan dan karakter generasi muda.
Secara keseluruhan, Reog Ponorogo tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga memuat nilai filosofis mengenai persatuan, pembentukan watak dan perilaku terpuji. Nilai tersebut berkaitan dengan pendidikan ketuhanan, budi pekerti, jasmani dan rohani, serta kepemimpinan.
Karakter Warok, misalnya, menjadi gambaran ketangguhan dan keteladanan. Sementara keseluruhan unsur pertunjukan menunjukkan bagaimana seni tradisi dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai kehidupan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dengan kekayaan sejarah, legenda, simbol dan nilai filosofis tersebut, Reog Ponorogo menjadi bagian penting dari khazanah budaya Nusantara. Keberadaannya tidak hanya memperkuat identitas masyarakat Ponorogo, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (*/ram)
Editor : Rizal AmrullohSumber : Kemenbud RI