Tinjau TMII, Menbud Fadli Zon Dorong Revitalisasi Anjungan Timor Timur sebagai Museum Persahabatan dan Diplomasi

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 10:47 WIB
SEJARAH BANGSA: Menbud RI Fadli Zon saat melangsungkan kunjungan kerja di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) den mendorong revitalisasi Anjungan Timor Timur dan beberapa museum di dalamnya, Kamis (15/8). (Foto: Kemenbud RI/Vidhy Fellizano Sfinoza) 
SEJARAH BANGSA: Menbud RI Fadli Zon saat melangsungkan kunjungan kerja di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) den mendorong revitalisasi Anjungan Timor Timur dan beberapa museum di dalamnya, Kamis (15/8). (Foto: Kemenbud RI/Vidhy Fellizano Sfinoza) 

RADAR MAJAPAHIT – Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon melakukan peninjauan ke kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Kamis (15/8). Mengusung semangat rekonsiliasi dan pelestarian sejarah bangsa, kunjungan kerja difokuskan terkait rencana transformatif Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI dalam menghidupkan kembali Anjungan Timor Timur. 

Fasilitas bersejarah yang dibangun pada era 1980-an tersebut akan direvitalisasi dan dialihfungsikan menjadi Museum Persahabatan dan Diplomasi antara Indonesia dengan Timor Leste. Langkah ini menjadi rangkaian modernisasi fasilitas budaya lainnya di kawasan TMII yang mencakup Museum Indonesia, Museum Perangko, Museum Pusaka, hingga Museum Purna Bhakti Pertiwi.

​Sebagai poros utama peninjauan, ungkap Fadli Zon, Anjungan Timor Timur memiliki nilai historis yang terlalu berharga untuk dibiarkan terbengkalai. Mengingat dinamika sejarah dan hubungan bilateral kedua negara, alih fungsi anjungan ini menjadi simbol diplomasi dan persaudaraan budaya dinilai sebagai langkah yang sangat visioner. ​"Ini dulunya adalah Anjungan Timor Timur. Kita tahu bahwa Timor Timur sekarang sudah menjadi negara Timor Leste sejak tahun 1999. Kita ingin merevitalisasi anjungan ini menjadi Museum Persahabatan Indonesia dan Timor Leste. Tentu ke depannya kita akan meminta masukan dari para sejarawan dan ahli,” tuturnya.

​Menbud juga menyampaikan akan mendatangkan artefak-artefak budaya yang menunjukkan akulturasi yang erat di perbatasan. Di antaranya seperti di Atambua, Belu, dan NTT pada umumnya, yang mempunyai kesamaan budaya dengan Timor Leste. "Mudah-mudahan langkah revitalisasi ini memastikan tidak ada museum atau anjungan yang mangkrak," tegas Fadli Zon.

Kemenbud segera mematangkan proses kurasi dan revitalisasi melalui dialog komprehensif bersama pakar kebudayaan guna memastikan narasi persahabatan kedua negara tersampaikan secara edukatif dan harmonis. Langkah ini sebagai respons kunjungan Menteri Muda Kebudayaan Timor Leste sebelumnya.

Visi pembaruan ini tidak berhenti di satu titik, melainkan menyentuh ekosistem pelestarian budaya secara menyeluruh di dalam kawasan TMII. Beranjak dari kekaguman atas mahakarya Nusantara yang terawat apik di Museum Indonesia, Menbud kemudian memberikan arahan modernisasi saat meninjau Museum Perangko. Guna menjawab tantangan era digital, fasilitas ini akan menjalani perbaikan tata pamer hingga percepatan digitalisasi. 

Di samping itu, sentuhan teknologi dan keberlanjutan juga disiapkan untuk Museum Pusaka. Selain akan dilengkapi dengan narasi interaktif berbasis teknologi imersif dan instalasi panel surya, ruang penyimpanan sekaligus lokakarya pembuatan keris yang selama ini tertutup akan dijadikan panggung atraksi edukatif atau showcase yang dapat dinikmati langsung oleh pengunjung.

Melengkapi rangkaian napak tilas sejarah budaya, rombongan juga bertolak menuju Museum Purna Bhakti Pertiwi, sebuah bangunan monumental yang didedikasikan untuk Presiden Soeharto yang kini telah resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional sejak tahun 2025. Terkesima dengan kelengkapan lebih dari 20 ribu artefak bersejarah mulai dari rekam jejak perjuangan hingga cenderamata dari para pemimpin dunia, Fadli Zon mendorong agar museum yang telah lama ditutup ini dapat segera dibuka kembali untuk publik. Menteri menekankan krusialnya perbaikan tata letak dan tindakan konservasi mendesak, khususnya untuk menyelamatkan karya-karya lukisan. (*/ram)

Editor : Rizal Amrulloh
Kemenbud RI TMII fadli zon